Jumat, Juli 10, 2009

Hidup Adalah Memilih (Membuat Keputusan)

Di sepanjang kehidupan, kita selalu dihadapkan oleh berbagai kenyataan atau peristiwa, baik disadari atau tidak disadari, suka atau tidak suka, yang mengharuskan kita untuk memilih dan kemudian membuat keputusan. Contoh sederhana saja, ketika seorang ibu akan berbelanja ke pasar maka ia akan melakukan plihan akan belanja apakah hari ini untuk kemudian di masak menjadi menu hari ini. Berbagai altenatif belanjaan ada dibenaknya, yang kemudian akan diputuskan untuk memilih salah satu yang dianggapnya tepat untuk menu hari ini. Contoh lain adalah seorang anak yang baru saja lulus dari bangku SMA. Di depannya ada banyak alternatif mau ke mana dia selanjutnya, bekerja atau meneruskan pendidikan atau menganggur, yang harus dipilihnya. Itulah hidup. Dalam hidup, manusia tidak akan pernah lepas dari pilihan-pilihan yang harus dibuatnya. Dalam konteks membuat keputusan, seseorang yang tidak memilih, sebenarnya sudah membuat pilihan atau mengambil kepurtusan, yaitu ia memilih untuk tidak melakukan pilihan.

Pilihan yang diambil, secara relatif, dapat dilihat dari dua aspek, yaitu baik dan tidak baik. Di katakan relatif karena tergantung pada situasi dan kondisi serta siapa yang melihat atau menilai putusan tersebut serta bergantung pada kematangan dan kesiapan kita menghadapi konsekuensi dari keputusan yang diambil. Saya kemudian mengklasifikasikannya ke dalam empat kategori, yaitu:
1. Pilihan yang diambil menurut saya baik, namun menurut orang lain dan/atau lingkungan tidak baik.
2. Pilihan yang diambil menurut saya tidak baik, tetapi menurut orang lain dan/atau lingkungan baik.
3. Pilihan yang diambil menurut saya tidak baik , dan menurut orang lain dan/atau lingkungan juga tidak baik.
4. Pilihan yang diambil menurut saya baik, dan menurut orang lain dan/atau lingkungan juga baik.

Dengan demikian, pilihan mana yang kita ambil sebenarnya tergantung pada berbagai konteks kebutuhan atau keinginan yang melingkari kita seperti keinginan pribadi kita, kebutuhan norma sosial dan agama, keinginan orang lain, tuntutan lingkungan, di mana setiap pilihan yang diambil mengandung konsekuensi-konsekuensi tertentu.

Konsekuensi-konsekuensi yang timbul tersebut akan mempengaruhi pola kehidupan seseorang di masa depan. Seseorang harus menyiapkan diri sehingga mampu beradaptasi dengan konsekuensi yang timbul sebagai akibat pilihan yang diambilnya. Terkadang konsekuensi yang terjadi bisa menjadi beban yang sangat berat dikemudian hari menjadikan seseorang menjadi down, namun ada juga konsekuensi yang menjadikan seseorang terlepas dari permasalahan yang dihadapi bahkan menghasilkan sesuatu yang produktif. Sebagaimana contoh di atas seorang yang baru lulus SMA yang kemudian memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan. Lulusan tersebut mungkin mempunyai pertimbangan tersendiri untuk tidak meneruskan sekolah. Bagi dia keputusannya tersebut merupakan hal yang baik, namun belum tentu dalam pandangan orang lain. Konsekuensi atas keputusan yang diambilnya dapat beragam bisa positip dan bisa negatip. Dari sisi lulusan itu sendiri, mungkin ia sudah memiliki persiapan diri untuk beradaptasi dengan konsekuensi dari pilihannya. Ia harus mampu menghadapi tantangan hidup yang ada di depannya, misalnya mencari pekerjaan. Bagi pandangan orang lain bisa saja mencibir misalnya mau kerja apa bila hanya lulusan SMA, atau bisa saja mendukung misalnya pandangan bahwa mungkin dia mau bekerja dulu untuk kemudian bila dana terkumpul bisa melanjutkan sekolah sambil bekerja.

Minggu, Juni 28, 2009

KOMPETENSI

Kompetensi merupakan salah satu syarat untuk dapat melaksanakan tugas dengan baik. Seseorang yang memiliki kompetensi yang memadai akan memiliki rasa percaya diri, dan biasanya mampu memotivasi dirinya untuk melaksanakan dan menyelesaikan tugas-tugas yang diembannya dengan baik. Pertanyaannya, apakah kompetensi itu?

Menurut Susanto (2003) definisi tentang kompetensi yang sering dipakai adalah karakteristik-karakteristk yang mendasari individu untuk mencapai kinerja superior. Kompetensi juga merupakan pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan yang berhubungan dengan pekerjaan, serta kemampuan yang dibutuhkan untuk pekerjaan-pekerjaan non-rutin.

Mendiknas melalui Surat Keputusan No. 045/U/2002 menyatakan bahwa kompetensi merupakan seperangkat tindakan cerdas penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas dibidang pekerjaan tertentu. Lebih lanjut dinyatakan bahwa elemen-elemen kompetensi meliputi:

1. Landasan kepribadian
2. Penguasaan ilmu dan keterampilan
3. Kemampuan berkarya
4. Sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai
5. Pemahaman kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian dalam berkarya

Menurut Johnson (Usman, 1997), kompetensi merupakan kinerja (perfomance) yang rasional yang secara memuaskan memenuhi tujuan tertentu sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Sedangkan Ife (1995) menyatakan bahwa secara umum kompetensi dimaknai sama dengan keterampilan-keterampilan (skills) yang dimiliki oleh seseorang.

Mirabile (Kismiyati, 2004) mendefinisikan kompetensi sebagai pengetahuan dan keterampilan yang dituntut untuk melaksanakan dan/atau untuk menunjang pelaksanaan pekerjaan, yang merupakan dasar bagi penciptaan nilai dalam suatu organisasi. Menurut definisi ini, faktor-faktor kompetensi yang sangat penting bagi perseorangan maupun organisasi untuk mencapai keberhasilan, meliputi: pengetahuan teknis, pengkoordinasian pekerjaan, penyelesaian dan pemecahan masalah, komunikasi dan layanan, dan akuntabilitas.

Selanjutnya, Sedarmayanti (2003) mengemukakan beberapa pengertian kompetensi, yaitu:

1. Konsep luas, membuat kemampuan, mentrasfer keahlian dan kemampuan kepada situasi baru dalam wilayah kerja.
2. Kemampuan dan kemauan untuk melakukan pekerjaan.
3. Dimensi perilaku yang memengaruhi kinerja.
4. Karakteristik individu yang dapat dihitung dan diukur secara konsisten, dapat dibuktikan untuk membedakan secara nyata antara kinerja yang efektif dengan yang tidak efektif.
5. Kemampuan dasar dan kualitas kinerja yang diperlukan untuk mengerjakan pekerjaan dengan baik.
6. Bakat, sifat dan keahlian individu yang dapat dibuktikan, dapat dihubungkan dengan kinerja yang efektif dan baik sekali.

Sedarmayanti (2003) kemudian membagi kompetensi menjadi tiga macam sebagai berikut:


1. Kompetensi teknis, yaitu pengetahuan dan keahlian untuk mencapai hasil yang telah disepakati, kemampuan untuk memikirkan persoalan dan mencari alternatif baru.
2. Kompetensi konseptual, yaitu kemampuan melihat gambar besar (imajinatif), untuk menguji berbagai pengandaian, dan mengubah perspektif.
3. Kompetensi untuk hidup dalam ketergantungan, yaitu kemampuan yang diperlukan guna berinteraksi efektif dengan orang lain, termasuk kemampuan mendengar, berkomunikasi, mendapat alternatif lain, menciptakan kesepakatan menang-menang, dan beroperasi secara efektif dalam sistem.

Sedangkan Soesarsono (2002) menyatakan bahwa secara umum kompetensi di bagi menjadi tiga hal, yaitu:


1. Kompetensi personal yaitu kemampuan seseorang yang dihubungkan dengan kepribadian, sifat-sifat atau karakter yang dimilikinya.
2. Kompetensi sosial yaitu kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, berinteraksi dan membangun hubungan dan jaringan dengan orang lain.
3. Kompetensi profesional yaitu seperangkat kemampuan khusus yang dimiliki seseorang dalam melaksanakan profesinya atau melaksanakan tugas tertentu.

Spencer dan Spencer (1993) menyatakan bahwa kompetensi merupakan karakteristik-karakteristik mendalam dan terukur pada diri seseorang yang menunjukan cara berperilaku atau berpikir dalam situasi dan tugas kerja tertentu yang bertahan dalam waktu lama pada diri orang tersebut. Karakteristik-karakteristik tersebut adalah:

1. Motif, yaitu segala hal yang secara konsisten diinginkan atau dipikirkan oleh seseorang yang mendorongnya untuk bertindak.
2. Sifat-sifat fisik, yaitu karakteristik fisik dan respons yang konsisten terhadap suatu situasi tertentu dan informasi
3. Konsep diri, yaitu sikap dan nilai serta pandangan seseorang terhadap identitas dan kepribadiannya sendiri.
4. Pengetahuan, kemampuan intelektual berupa segala informasi ang dimiliki oleh seseorang yang dapat dimanfaatkan dalam tugas/ pekerjaan tertentu.
5. Keterampilan, yaitu kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan fisik dan mental dengan baik.

Lebih lanjut Spencer dan Spencer (1993) membagi kompetensi menjadi dua, yaitu:

1. Kompetensi ambang batas (threshold competency)
Kompetensi minimal yang harus dimiliki oleh seseorang agar dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Dikatakan minimal karena sekedar terpenuhinya standard kerja minimal yang dipersyaratkan, tidak lebih, sehingga dapat melakukan pekerjaanya dengan baik.
2. Kompetensi yang membedakan (differentiating competency)
Kompetensi yang dapat membedakan apakah seseorang memiliki kinerja superior atau tidak. Dikatakan superior, apabila kinerja seseorang berada di atas rata-rata kebanyakan orang.

Pengkategorian kompetensi yang lebih fundamental dinyatakan oleh UNESCO (2005) bahwa terdapat empat kompetensi dasar yang perlu dimiliki oleh individu untuk menghadapi tantangan yang muncul di dalam hidupnya dan yang muncul didalam masyarakatnya. Empat kompetensi tersebut adalah:

1. Competency Learning tobe - Personal Competency
Kompetensi personal merupakan potensi individu yang terkait dengan konsep diri, yaitu cara bagaimana individu memandang dirinya sendiri. Kompetensi personal membuat setiap individu berbeda satu dengan lainnya. Dengan kompetensi personal, seseorang mampu untuk melakukan sesuatu yang berbeda dari individu lainnya.

2. Competency Learning to live together – Social/Relational Competency
Kompetensi yang memungkinkan individu membangun kemampuannya untuk berhubungan dengan orang lain (interpersonal competency) dan masyarakat lainnya (social competency).

3. Competency Learning to know – Cognitive Competency
Kompetensi dalam menggunakan, meningkatkan dan mendayagunakan kemampuan intelektual. Terdapat tiga instrumen untuk mengembangkan kompetensi ini yaitu belajar tentang cara belajar (learning how to learn), mengajar tentang cara mengajar (teaching how to teach), dan mengetahui tentang cara mengetahui (knowing how to know).

4. Competency Learning to do – Productive Competency
Kompetetensi yang terkait dengan upaya individu membangun dirinya menjadi individu yang produktif, kreatif, dan inovatif. Kompetensi produktif terekspresi dalam bentuk kemampuan mengarahkan (directing), mengelola (managing), koordinasi/kerjasama (coordinating), pengawasan dan evaluasi terhadap produksi sendiri (self-management), produksi kelompok sendiri (co-management), atau produksi kelompok lain (group management). Kompetensi ini dapat menciptakan ruang enterpreneur bagi individu.

Dari berbagai penjelasan di atas dapat ditarik sebuah benang merah bahwa kompetensi merupakan kombinasi dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan oleh individu untuk mampu melaksanakan tugas tertentu dengan baik, yang terekspresi dalam bentuk tindakan. Dengan demikian seseorang yang berkompeten adalah seseorang yang penuh percaya diri karena menguasai pengetahuan dalam bidangnya, memiliki keterampilan serta sikap positip dalam mengerjakan hal-hal yang terkait dengan bidang itu sesuai dengan tata nilai atau ketentuan yang dipersyaratkan. Dengan kata lain, kompetensi merupakan faktor mendasar yang perlu dimiliki seseorang, sehingga memimiliki kemampuan lebih dan membuatnya berbeda dengan seseorang yang mempunyai kemampuan rata-rata atau biasa saja